Pesawat yang mengangkut 11 orang—terdiri dari 8 kru dan 3 penumpang—dilaporkan lost contact sekitar pukul 13.17 WITA, berdasarkan laporan resmi AirNav Makassar. Titik koordinat terakhir yang terpantau berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, kawasan yang dikenal memiliki kontur geografis kompleks.
Kronologi Awal: Hilang di Fase Kritis
Informasi awal yang dihimpun redaksi menyebutkan, pesawat tengah berada dalam fase penerbangan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar ketika kontak dengan pengatur lalu lintas udara terputus.
Dalam dunia penerbangan, lost contact bukan sekadar gangguan komunikasi biasa. Pada fase mendekati wilayah udara tujuan, pesawat seharusnya berada dalam pengawasan ketat radar dan komunikasi radio berlapis.
Hilangnya kontak pada fase ini memunculkan pertanyaan krusial:
Apakah terjadi gangguan teknis komunikasi?
Apakah pesawat mengalami perubahan ketinggian atau jalur?
Ataukah ada faktor eksternal seperti cuaca ekstrem atau kondisi geografis?
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai status terakhir pesawat sebelum kontak terputus.
Wilayah Maros–Pangkep: Medan Sulit dan Tantangan Pencarian
Wilayah Maros dan Pangkep bukan kawasan sembarangan dalam konteks pencarian udara. Daerah ini memiliki:
Pegunungan karst terjal
Lembah sempit dan hutan lebat
Akses darat terbatas di sejumlah titik
Kondisi ini membuat operasi pencarian menjadi berisiko dan memakan waktu, terutama jika pesawat berada di luar jalur penerbangan utama atau jatuh di area yang sulit dijangkau.
Tak heran jika Basarnas Makassar langsung mengerahkan drone pemantau udara selain kendaraan darat, sebagai upaya memaksimalkan pencarian di medan ekstrem.
Respon SAR: Kecepatan vs Ketepatan
Basarnas menyatakan telah mengerahkan 15 personel tim rescue, lengkap dengan rescue car, truk personel, dan drone. Namun, dalam kasus lost contact, kecepatan harus diimbangi dengan akurasi data.
Koordinat terakhir pesawat menjadi kunci utama. Namun, pakar penerbangan menilai bahwa titik radar terakhir tidak selalu identik dengan lokasi jatuh pesawat, karena pesawat bisa saja masih melaju beberapa menit setelah sinyal terakhir terekam.
Artinya, area pencarian berpotensi meluas, terutama jika kondisi cuaca saat kejadian tidak stabil.
Menunggu Transparansi Otoritas
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari:
Maskapai Indonesia Air Transport
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)
Ketiadaan informasi rinci memunculkan kekhawatiran publik, khususnya terkait:
Riwayat kelaikan pesawat
Jam terbang kru
Catatan perawatan terakhir (maintenance record)
Dalam sejumlah insiden penerbangan sebelumnya, keterlambatan penyampaian informasi kerap memicu spekulasi liar di ruang publik.
Catatan Keselamatan: ATR dan Operasi Domestik
Pesawat tipe ATR dikenal luas digunakan untuk penerbangan domestik jarak pendek hingga menengah. Meski secara umum memiliki reputasi baik, faktor perawatan, kondisi cuaca, dan kepatuhan prosedur operasional tetap menjadi variabel penentu keselamatan.
Kasus hilang kontak ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh:
Ketepatan pengawasan lalu lintas udara
Kesiapan kru menghadapi kondisi darurat
Sistem respons cepat ketika terjadi anomali penerbangan
Menanti Jawaban
Kini, publik hanya bisa menunggu hasil pencarian tim SAR. Setiap menit menjadi krusial, bukan hanya untuk menemukan pesawat, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di udara Sulawesi Selatan siang itu?
Redaksi akan terus memantau perkembangan dan menyajikan informasi terbaru secara berimbang dan terverifikasi.
(*)
FOLLOW THE ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram