Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, semakin hari semakin mengkhawatirkan. Platform yang awalnya digunakan untuk hiburan, edukasi, dan konten kreatif itu kini sering dipenuhi oleh video-video yang jauh dari nilai moral dan etika. Ironisnya, sebagian konten tersebut bahkan menggunakan kata-kata tidak senonoh dalam bahasa Bugis, sehingga menambah keprihatinan masyarakat Bugis yang masih memegang kuat budaya sopan santun (sipakatau, sipakalebbi, sipakainge’).
Belakangan ini, berbagai konten yang beredar menunjukkan bagaimana sebagian pengguna rela melakukan apa saja demi viral. Kalimat kasar, umpatan kotor, hingga adegan yang tidak pantas dipertontonkan secara terang-terangan. Dampaknya tidak hanya merusak ruang digital, tetapi juga berpotensi mempengaruhi anak-anak dan remaja yang setiap hari mengakses TikTok tanpa batasan.
Fenomena ini seakan menjadi bukti bahwa literasi digital masih sangat lemah. Banyak pengguna tidak memahami bahwa setiap konten yang mereka unggah akan dikonsumsi publik dan meninggalkan jejak digital. Di sisi lain, aturan komunitas TikTok sebenarnya jelas melarang konten vulgar, asusila, ujaran kebencian, serta bahasa kasar. Namun karena tingginya volume unggahan, tidak semua segera terpantau dan dihapus.
Masyarakat berharap agar platform TikTok lebih memperketat pengawasan dan melakukan tindakan cepat terhadap akun-akun yang memproduksi konten tidak bermoral. Selain itu, edukasi kepada pengguna, terutama kalangan muda, sangat diperlukan agar mereka lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak terjebak dalam budaya “viral dengan cara apa pun”.
Pada akhirnya, ruang digital adalah cermin masyarakat. Jika yang diperlihatkan adalah hal-hal buruk, maka yang tumbuh adalah generasi yang terbiasa melihat hal buruk sebagai sesuatu yang wajar. Sudah saatnya semua pihak — keluarga, sekolah, komunitas, hingga kreator sendiri — kembali menegakkan nilai etika dan kesopanan, agar media sosial tidak menjadi tempat yang merusak karakter.
Tokoh Agama / Ustaz
-
“Media sosial itu seperti pisau. Kalau digunakan untuk kebaikan, pahalanya mengalir. Tapi kalau digunakan untuk kemaksiatan, dosanya juga ikut mengalir. Maka jagalah jari-jarimu dari menulis dan menyebarkan hal yang tidak pantas.”
-
“Seorang Muslim diperintahkan menjaga lisan dan tulisan. Apa yang tidak pantas diucapkan, tidak pantas pula dituliskan atau diviralkan.”
-
“Ingatlah, setiap konten yang kita buat akan dimintai pertanggungjawaban. Viral bukanlah alasan untuk melanggar batas kesopanan dan adab.”
-
“Bahasa yang kotor tidak mencerminkan budaya Bugis yang mulia. Sipakatau dan sipakalebbi harus hadir juga dalam dunia digital.”
-
“Hendaknya setiap orang berhati-hati. Konten tidak senonoh bukan hanya menjerumuskan diri sendiri, tetapi juga menjerumuskan orang yang menontonnya.”
-
“Jaga kehormatan diri dengan menjaga apa yang Anda unggah. Allah mengetahui apa yang tersembunyi maupun yang tampak di media sosial.”
Redaksi)
FOLLOW THE ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram