Artikel
-->

14 Jan 2026

Rokok Membahayakan Perokok dan Nonperokok, Mengapa Pabriknya Tak Ditutup?





Pemerintah secara terbuka mengakui bahwa rokok mengandung zat adiktif yang berbahaya bagi kesehatan, baik bagi perokok aktif maupun masyarakat di sekitarnya yang terpapar asap rokok. Hal itu ditegaskan melalui peringatan kesehatan bergambar pada setiap kemasan rokok serta berbagai regulasi pembatasan iklan dan kawasan tanpa rokok.

“Saya sadar merokok itu berbahaya, tapi ini sudah jadi kebiasaan. Selama masih dilegalkan dan dijual bebas, kami sebagai perokok merasa negara juga ikut membiarkan. 

Kalau memang rokok dianggap berbahaya, seharusnya aturannya lebih tegas atau sekalian dilarang,” ujar AR, seorang perokok aktif.


Jika rokok memang membahayakan perokok dan orang di sekitarnya, maka solusi paling tegas adalah menutup semua pabrik rokok. Selesai.

Namun negara tidak berjalan hanya dengan satu variabel “bahaya”, ada beberapa realitas besar yang membuat kebijakan itu tidak pernah diambil, meski semua orang tahu rokok berbahaya:


1. Negara Mengakui Rokok Berbahaya, Tapi Tetap Melegalkan

Ini kontradiksi terbuka:
Rokok diakui berbahaya (peringatan kesehatan, iklan dibatasi)


Tapi tetap dilegalkan dan dikenakan cukai tinggi

Artinya: negara tidak melarang, tapi mengendalikan dan memungut keuntungan.

2. Faktor Ekonomi yang Sangat Besar
Jika semua pabrik rokok ditutup:


Jutaan pekerja kehilangan pekerjaan (buruh pabrik, petani tembakau, cengkeh)


Penerimaan negara dari cukai rokok (ratusan triliun rupiah per tahun) hilang


Banyak daerah bergantung pada Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT)
Negara belum siap menanggung efek domino itu.

3. Pendekatan Negara: Bukan “Larangan Total”, Tapi “Pembatasan”

Karena itu yang diambil:
Cukai dinaikkan
Iklan dibatasi
Kawasan tanpa rokok
Edukasi bahaya rokok
Ini pendekatan reduksi dampak, bukan penghapusan total.

4. Kalau Ditutup Total, Risiko Lain Muncul
Larangan total justru berpotensi:
Muncul rokok ilegal lebih masif


Negara kehilangan kontrol
Bahaya kesehatan tetap ada, tapi tanpa pengawasan

Kesimpulan Jujur

Kalimat Anda ini kuat dan menohok:
“Kalau memang rokok membahayakan perokok dan tidak perokok, satu kata: tutup semua pabrik rokok, selesai.”


Namun, di tengah pengakuan tersebut, muncul pertanyaan mendasar di tengah masyarakat: jika rokok memang membahayakan semua pihak, mengapa pabrik rokok tidak ditutup sepenuhnya?

Secara logika kesehatan publik, jawabannya tampak sederhana. Rokok telah terbukti menjadi pemicu berbagai penyakit serius seperti kanker, gangguan jantung, dan penyakit pernapasan.

 Organisasi kesehatan dunia pun menyebut rokok sebagai salah satu penyebab utama kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

 Dari sudut pandang ini, penutupan seluruh pabrik rokok dinilai sebagai langkah paling tegas dan efektif untuk menghentikan dampak buruk tersebut.


Namun, kebijakan publik tidak hanya berdiri di atas satu aspek kesehatan semata. Industri rokok di Indonesia telah lama menjadi bagian dari struktur ekonomi nasional.

 Jutaan masyarakat menggantungkan hidupnya dari sektor ini, mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, distributor, hingga pedagang kecil. Penutupan total pabrik rokok secara tiba-tiba berpotensi menimbulkan gelombang pengangguran dan masalah sosial baru yang tidak ringan.


Selain itu, rokok merupakan salah satu penyumbang terbesar penerimaan negara melalui cukai. 

Dana tersebut selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembiayaan kesehatan, pembangunan daerah, serta Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang dialokasikan ke daerah penghasil tembakau dan rokok. Jika industri ini dihentikan total, negara harus menyiapkan sumber penerimaan pengganti dalam jumlah yang sangat besar.


Atas dasar itulah, pemerintah memilih jalan tengah dengan pendekatan pengendalian, bukan pelarangan total. Kebijakan yang diambil antara lain kenaikan tarif cukai secara bertahap, pembatasan iklan, penerapan kawasan tanpa rokok, serta kampanye edukasi bahaya merokok. Langkah ini bertujuan menekan angka perokok, khususnya pada usia muda, tanpa mengguncang stabilitas ekonomi dan sosial secara drastis.


Di sisi lain, penutupan total pabrik rokok juga dikhawatirkan memicu maraknya peredaran rokok ilegal. Tanpa pengawasan dan regulasi yang jelas, rokok ilegal justru dapat beredar lebih bebas dengan kualitas yang tidak terjamin dan tanpa kontribusi penerimaan negara.

 Kondisi ini berpotensi memperburuk persoalan kesehatan sekaligus penegakan hukum.


Meski demikian, suara kritis dari masyarakat tetap patut menjadi perhatian. Pernyataan sederhana namun menohok kerap muncul:

 “Jika rokok membahayakan perokok dan nonperokok, satu kata saja—tutup semua pabrik rokok.” Kalimat ini mencerminkan kegelisahan publik terhadap kebijakan yang dinilai masih setengah hati dalam melindungi kesehatan masyarakat.


Ke depan, tantangan pemerintah adalah mencari keseimbangan antara perlindungan kesehatan publik dan keberlanjutan ekonomi. Transisi menuju pengurangan ketergantungan terhadap industri rokok, pengalihan mata pencaharian petani tembakau, serta penguatan sektor ekonomi alternatif menjadi pekerjaan rumah besar yang tidak bisa ditunda.


Pada akhirnya, polemik rokok bukan hanya soal ekonomi atau kesehatan semata, melainkan soal keberanian negara dalam menentukan arah kebijakan jangka panjang. Selama rokok masih diproduksi dan dilegalkan, perdebatan tentang bahaya dan tanggung jawab negara akan terus bergulir di ruang publik.


15 Des 2025

Di Antara Kesibukan Dunia dan Panggilan Shalat


Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui isi hati dan keadaan setiap hamba-Nya.

 


Di tengah perjalanan hidup, manusia kerap berada dalam keadaan lemah, khilaf, dan lalai. Tidak jarang seorang hamba terjebak dalam kesibukan dunia, hingga tanpa sadar melalaikan kewajiban utamanya, yakni shalat lima waktu.

Banyak dari kita berada di antara dua amanah besar: kewajiban mencari rezeki demi menafkahi keluarga dan kewajiban beribadah kepada Allah SWT. Niat bekerja sering kali dilandasi keinginan mulia, agar keluarga hidup layak dan terjaga. Namun, di balik niat baik tersebut, setan kerap menyelinap, membuat aktivitas dunia terasa lebih mendesak daripada panggilan shalat.

Padahal, rezeki sejatinya telah Allah tetapkan. Usaha hanyalah jalan, sementara keberkahan datang dari ketaatan. Kesibukan, kelelahan, dan tuntutan pekerjaan tidak pernah menjadi alasan yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat. Justru di saat paling sibuklah, seorang hamba diuji sejauh mana ia mendahulukan Rabb-nya di atas segala urusan dunia.

Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan ruhani. Ia adalah penguat jiwa, penenang hati, dan sumber keberkahan dalam setiap langkah. Ketika shalat ditinggalkan, bukan hanya kewajiban yang terlewat, tetapi juga pertolongan Allah yang sesungguhnya sedang kita butuhkan.

Maka marilah kita bermuhasabah. Betapa sering kita merasa terlalu sibuk untuk shalat, namun tidak pernah merasa terlalu sibuk untuk urusan dunia. Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, menguatkan iman kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa menjaga shalat, apa pun keadaan dan kesibukan yang sedang dihadapi.

Karena sejatinya, ketaatan kepada Allah tidak akan mengurangi rezeki, justru ia menjadi pintu datangnya keberkahan hidup.



13 Des 2025

Saat Melayat, Kita Sadari Kematian itu Pasti dan hanya Amal dan Pahala yang kita Bawa

     foto Ilustrasi



Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan nikmat kesehatan yang masih diberikan kepada kita hingga hari ini. Dalam keadaan sehat wal afiat, kita masih diberi kesempatan untuk beraktivitas, bersilaturahmi, bahkan melayat ke rumah duka orang yang telah lebih dulu dipanggil menghadap Sang Khalik.

Momentum melayat ini menjadi pengingat yang sangat dalam bagi setiap insan. Di tengah suasana duka, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Hari ini kita berdiri mendoakan, esok atau lusa bisa jadi kitalah yang terbaring dan didatangi warga untuk dilayat.

Salah seorang warga yang ditemui di lokasi melayat menyampaikan refleksinya dengan suara lirih.

“Setiap kali datang melayat, saya selalu teringat bahwa hidup ini tidak lama. Hari ini kita masih berjalan, masih bicara, tapi besok belum tentu. Yang dibawa mati itu cuma amal dan dosa,” ujarnya.

Warga lainnya juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, nikmat kesehatan yang sering dianggap biasa justru menjadi karunia paling besar dari Allah SWT.

“Alhamdulillah kita masih diberi sehat, masih bisa datang melayat. Itu tanda Allah masih kasih kita waktu untuk memperbaiki diri sebelum dipanggil,” tuturnya.

Kesadaran akan kematian seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak lalai dalam menjalani kehidupan. Dunia dengan segala isinya—harta, jabatan, dan pujian—tidak akan ikut menemani saat jasad dimasukkan ke liang lahat.

“Kalau sudah meninggal, tidak ada lagi yang ditanya selain amal. Bukan rumah, bukan kendaraan, bukan jabatan,” kata seorang warga lainnya.

Oleh karena itu, warga berharap momen-momen seperti ini tidak hanya menjadi rutinitas sosial, tetapi juga menjadi bahan muhasabah untuk memperbaiki sikap, memperbanyak amal kebaikan, menjaga lisan, serta mempererat silaturahmi sesama manusia.

“Selagi masih hidup, mari kita saling memaafkan dan berbuat baik. Karena saat mati nanti, yang menemani kita hanyalah amal perbuatan,” tutup seorang tokoh masyarakat setempat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kesehatan, umur yang bermanfaat, serta hidayah untuk menyiapkan bekal terbaik sebelum ajal menjemput. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis Akhmad Mario/ 13 Desember 2025


12 Des 2025

Guru adalah Pengganti Orang Tua Murid di Sekolah , Inilah yang Perlu kita Tahu


Seorang guru pada dasarnya memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak selama berada di lingkungan sekolah. Tidak hanya menjalankan tugas untuk mengajar mata pelajaran, seorang guru juga menjadi sosok pengganti orang tua yang bertanggung jawab memberikan bimbingan, perhatian, dan rasa aman kepada muridnya. Karena itulah, kepedulian seorang guru terhadap kondisi dan keadaan siswanya merupakan hal yang sangat wajar dan sejalan dengan nilai etika profesi pendidikan.

Ketika seorang murid mengalami sakit, menunjukkan perubahan perilaku, atau menghadapi kesulitan tertentu, reaksi seorang guru yang merasa prihatin adalah bentuk empati yang tumbuh dari hubungan edukatif antara guru dan murid. Sikap ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian integral dari kewajiban moral seorang pendidik untuk memastikan setiap anak mendapat perhatian yang layak agar tetap mampu mengikuti proses belajar dengan baik.

Perhatian itu pun tentu diberikan secara profesional dan tetap dalam batas yang sesuai antara guru dan murid. Guru menyampaikan kepedulian sebagai tanggung jawab, bukan sebagai bentuk interaksi yang berlebihan atau melewati batas norma pendidikan. Inilah prinsip dasar yang selalu dijunjung dalam dunia pendidikan, yakni menjaga hubungan yang sehat, beretika, dan penuh rasa tanggung jawab.

Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat memahami dan menghargai ketika seorang guru menunjukkan kepedulian kepada anaknya. Sikap ini bukan sesuatu yang perlu dicurigai atau disalahartikan, melainkan wujud nyata dari tugas seorang pendidik yang ingin memastikan muridnya mendapatkan perhatian terbaik selama berada di sekolah. Kerja sama antara orang tua dan guru sangat penting untuk membangun lingkungan belajar yang aman, harmonis, dan mendukung perkembangan anak secara optimal.


Ternyata Admin TikTok Tidak Memahami Bahasa Bugis, Konten Tak Senonoh Tidak Terdeteksi

Fenomena menarik terjadi di platform TikTok. Sejumlah pengguna menemukan bahwa konten yang mengandung bahasa Bugis, khususnya kata-kata yang tidak senonoh, tidak terdeteksi atau diblokir oleh sistem moderasi TikTok.

Hal ini diduga karena admin atau sistem pendeteksi TikTok tidak memahami bahasa Bugis, sehingga kata-kata  di konten tidak pantas yang menggunakan bahasa daerah tersebut lolos dari filter. Sebaliknya, jika konten yang sama diucapkan dalam bahasa Indonesia, sistem lebih mudah memahaminya dan langsung memberi peringatan atau melakukan pemblokiran.

Kondisi ini membuat sebagian pengguna menilai bahwa perlindungan konten TikTok belum sepenuhnya inklusif terhadap bahasa daerah, sehingga masih ada celah bagi konten negatif untuk beredar.


11 Des 2025

Melaju dengan Motor Cicilan, Berjuang Tanpa Kepastian: Mengapa Bantuan Harus Dicabut?”

Sebuah percakapan menarik mencuat dalam salah satu grup WhatsApp masyarakat, menyoroti masalah pendataan bantuan sosial (bansos) yang dinilai kurang tepat sasaran. Keluhan bermula dari kasus seorang warga yang dicabut bantuannya hanya karena memiliki sepeda motor, padahal motor tersebut dibeli dengan sistem cicilan dan digunakan sehari-hari untuk mengojek demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam diskusi itu, warga menilai keputusan mencabut bantuan hanya berdasarkan keberadaan motor sebagai aset sama sekali tidak menggambarkan kondisi ekonomi penerimanya. Motor tersebut bukanlah simbol kemewahan, tetapi alat kerja. Justru tanpa kendaraan itu, ia tidak bisa mencari nafkah.

Selain itu, masyarakat menyampaikan bahwa penghasilan seorang ojek sama sekali tidak tetap. Ada hari ramai, ada hari sepi, bahkan sering kali penghasilan harian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Maka keputusan mencoret penerima bansos tanpa melihat kondisi nyata dianggap sangat merugikan dan tidak adil.

Para warga menegaskan bahwa proses pendataan bansos seharusnya dilakukan dengan lebih teliti, manusiawi, dan memahami konteks lapangan. Petugas pendata perlu memastikan bahwa data yang masuk benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya—bukan sekadar menilai aset secara kaku tanpa melihat fungsi dan kebutuhan hidup penerima.

Kesimpulannya, kasus ini menjadi pengingat bahwa pendataan bantuan sosial harus dicermati dengan baik, agar bantuan benar-benar diberikan kepada mereka yang membutuhkan, terutama warga yang bekerja serabutan dan berpenghasilan tidak tetap.


Astaghfirullah… Fenomena Konten TikTok Semakin Memprihatinkan, Bahasa Tak Senonoh Ikut Diviralkan

Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, semakin hari semakin mengkhawatirkan. Platform yang awalnya digunakan untuk hiburan, edukasi, dan konten kreatif itu kini sering dipenuhi oleh video-video yang jauh dari nilai moral dan etika. Ironisnya, sebagian konten tersebut bahkan menggunakan kata-kata tidak senonoh dalam bahasa Bugis, sehingga menambah keprihatinan masyarakat Bugis yang masih memegang kuat budaya sopan santun (sipakatau, sipakalebbi, sipakainge’).

Belakangan ini, berbagai konten yang beredar menunjukkan bagaimana sebagian pengguna rela melakukan apa saja demi viral. Kalimat kasar, umpatan kotor, hingga adegan yang tidak pantas dipertontonkan secara terang-terangan. Dampaknya tidak hanya merusak ruang digital, tetapi juga berpotensi mempengaruhi anak-anak dan remaja yang setiap hari mengakses TikTok tanpa batasan.

Fenomena ini seakan menjadi bukti bahwa literasi digital masih sangat lemah. Banyak pengguna tidak memahami bahwa setiap konten yang mereka unggah akan dikonsumsi publik dan meninggalkan jejak digital. Di sisi lain, aturan komunitas TikTok sebenarnya jelas melarang konten vulgar, asusila, ujaran kebencian, serta bahasa kasar. Namun karena tingginya volume unggahan, tidak semua segera terpantau dan dihapus.

Masyarakat berharap agar platform TikTok lebih memperketat pengawasan dan melakukan tindakan cepat terhadap akun-akun yang memproduksi konten tidak bermoral. Selain itu, edukasi kepada pengguna, terutama kalangan muda, sangat diperlukan agar mereka lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak terjebak dalam budaya “viral dengan cara apa pun”.

Pada akhirnya, ruang digital adalah cermin masyarakat. Jika yang diperlihatkan adalah hal-hal buruk, maka yang tumbuh adalah generasi yang terbiasa melihat hal buruk sebagai sesuatu yang wajar. Sudah saatnya semua pihak — keluarga, sekolah, komunitas, hingga kreator sendiri — kembali menegakkan nilai etika dan kesopanan, agar media sosial tidak menjadi tempat yang merusak karakter.


Tokoh Agama / Ustaz

  1. “Media sosial itu seperti pisau. Kalau digunakan untuk kebaikan, pahalanya mengalir. Tapi kalau digunakan untuk kemaksiatan, dosanya juga ikut mengalir. Maka jagalah jari-jarimu dari menulis dan menyebarkan hal yang tidak pantas.”

  2. “Seorang Muslim diperintahkan menjaga lisan dan tulisan. Apa yang tidak pantas diucapkan, tidak pantas pula dituliskan atau diviralkan.”

  3. “Ingatlah, setiap konten yang kita buat akan dimintai pertanggungjawaban. Viral bukanlah alasan untuk melanggar batas kesopanan dan adab.”

  4. “Bahasa yang kotor tidak mencerminkan budaya Bugis yang mulia. Sipakatau dan sipakalebbi harus hadir juga dalam dunia digital.”

  5. “Hendaknya setiap orang berhati-hati. Konten tidak senonoh bukan hanya menjerumuskan diri sendiri, tetapi juga menjerumuskan orang yang menontonnya.”

  6. “Jaga kehormatan diri dengan menjaga apa yang Anda unggah. Allah mengetahui apa yang tersembunyi maupun yang tampak di media sosial.”


Redaksi)


10 Des 2025

Permintaan Liputan dari Insan Pers itu Bukan Layanan Gratis Simak Ini!!


Dalam menjalankan tugas jurnalistik, insan pers bekerja melalui proses peliputan, penulisan, hingga penerbitan berita. Namun, masih banyak  yang belum memahami bahwa aktivitas tersebut merupakan pekerjaan profesional yang membutuhkan waktu, tenaga, serta keahlian.

Foto Ilustrasi


Sehubungan dengan itu, pihak redaksi media mengimbau kepada publik agar memahami mekanisme ketika menghubungi media untuk meminta suatu kegiatan diberitakan. Permintaan seperti “tolong kegiatan  saya ini diberitakanbukanlah sekadar komunikasi biasa, melainkan sudah termasuk permintaan layanan publikasi atau jasa pemberitaan.

"Redaksi menegaskan bahwa setiap proses unggah (upload) berita, penulisan, serta verifikasi informasi merupakan bagian dari pekerjaan profesional yang memiliki nilai jasa. Karena itu, bagi masyarakat, organisasi, ataupun penyelenggara kegiatan yang ingin liputannya dimuat di media, diharapkan memiliki pemahaman bahwa layanan tersebut memerlukan dukungan biaya atau imbalan sesuai ketentuan perusahaan media"

Imbauan ini disampaikan agar tercipta hubungan yang lebih sehat, saling menghargai, dan profesional antara media dan publik, sekaligus memastikan keberlanjutan operasional media dalam menyediakan informasi yang berkualitas dan dapat dipercaya.

Redaksi//  10 Desember 2025


7 Des 2025

Dari Pembunuhan hingga Pemerkosaan, Rentetan Kasus Ini Mengusik Nurani Publik


ZONABUSER.ID – Maraknya penyebaran informasi kriminalitas di media sosial belakangan ini membuat masyarakat semakin resah. Berbagai laporan mengenai pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, penganiayaan, hingga aksi kejahatan jalanan terus bermunculan dari berbagai daerah dan dengan cepat menjadi viral.

Dalam satu hari, sejumlah pengguna media sosial mengaku menerima banyak tautan atau unggahan yang menampilkan kejadian-kejadian tragis tersebut. Tingginya intensitas pemberitaan kriminal membuat sebagian warga merasa khawatir akan meningkatnya angka kejahatan di lingkungan mereka.

Sejumlah pengamat sosial menyebut fenomena viralnya kasus-kasus ini bukan hanya karena meningkatnya tindak kriminal, melainkan juga akibat perkembangan teknologi dan kemudahan publik dalam mengunggah informasi. Meski begitu, kondisi ini tetap menjadi sinyal penting bahwa keamanan masyarakat perlu lebih diperhatikan.

Seorang warga mengungkapkan kekhawatirannya saat ditemui oleh redaksi. Ia mengaku, hampir setiap membuka media sosial, yang terlihat adalah berita tentang tindak kekerasan. “Ngeri baca berita sekarang. Hampir setiap hari ada saja laporan pembunuhan atau pemerkosaan. Kita jadi takut sendiri, apalagi kalau punya anak,” ujarnya.

Menyikapi keresahan masyarakat, aparat penegak hukum di berbagai daerah mengimbau warga untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan segera melaporkan segala bentuk tindakan mencurigakan. Pihak kepolisian juga memastikan bahwa mereka terus melakukan patroli, penindakan, serta penyelidikan terhadap kasus-kasus yang beredar untuk mencegah terjadinya hal serupa.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi, memastikan akurasi berita sebelum membagikannya, serta menghindari penyebaran video kekerasan yang dapat menimbulkan trauma atau dampak negatif lainnya.

Fenomena meningkatnya peredaran berita kriminal di media sosial menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan sangat diperlukan untuk menjaga ketertiban dan menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.

Redaksi//


28 Nov 2025

Zonabuser Menyapa: Selamat Beraktivitas, Tetap Semangat!



ZONA BUSER , Soppeng Suasana pagi ini diawali dengan sapaan hangat kepada seluruh masyarakat, di mana pun berada. “Selamat pagi untuk saudara-saudara di mana saja berada, semoga pagi ini sehat selalu dan selamat menjalankan aktivitas,” demikian pesan yang saya sampaikan  sebagai bentuk perhatian dan dorongan semangat bagi warga yang mulai beraktivitas. Jumat 28 November 2025

Sapaan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan dan membangun energi positif di awal hari sangat penting untuk menghadapi rutinitas , khususnya para pekerja, pelajar, serta masyarakat yang bersiap memulai agenda harian masing-masing.

Pesan sederhana ini menjadi simbol kepedulian sosial dan harapan agar seluruh masyarakat senantiasa berada dalam kondisi prima, sekaligus terus produktif dalam setiap kegiatan.

Dengan suasana pagi yang cerah, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kebugaran, mengatur waktu istirahat, serta menjaga semangat dalam menjalankan peran masing-masing di tengah kesibukan.

23 Nov 2025

Anak Meniru Orang Tua: Keteladanan Lebih Kuat dari Seribu Nasihat



ZONA BUSER , SoppengDalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita tidak menyadari bahwa anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ucapkan, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat. Di banyak rumah, situasi ini kerap terjadi: ketika ayah dan ibu duduk bersama sambil memegang ponsel, tanpa berkata apa pun anak langsung ikut melakukan hal serupa. Anak mencontoh perilaku orang tuanya, karena bagi mereka apa yang dilakukan orang tua adalah hal yang benar dan patut diikuti. Minggu 23/11/2025

Foto Orang Tua Baca Buku supAya Anak ikut

Namun ada satu momen yang mengubah keadaan. Ketika orang tua tersadar bahwa kebiasaan bermain ponsel terlalu lama tidak memberikan contoh yang baik, mereka pun meletakkan ponsel dan mengambil buku untuk dibaca. Suasana yang tadinya dipenuhi cahaya layar tiba-tiba berubah menjadi lebih tenang. Melihat itu, anak yang sejak tadi memegang ponsel ikut spontan mengambil buku juga. Tanpa diminta, tanpa disuruh. Ia hanya meniru apa yang dilakukan orang tuanya.

Dari kejadian sederhana ini, terlihat jelas bahwa keteladanan memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar nasihat. Anak-anak adalah cermin dari perilaku orang tua, dan perubahan kecil dari orang dewasa dapat memberi dampak besar pada kebiasaan dan perkembangan anak.


19 Nov 2025

Mengungkap Program Pemerintah Tempo Dulu Sebelum Era Media Online


Sebelum dunia mengenal media online dan arus informasi yang bergerak dalam hitungan detik, pelaksanaan program-program pemerintah berjalan dalam suasana yang sangat berbeda. Pada masa itu, pemerintah bergantung pada pola komunikasi tradisional yang mengutamakan pertemuan langsung, surat edaran, dan pengumuman resmi di ruang-ruang publik.

Di tingkat pusat hingga desa, informasi program biasanya disampaikan melalui radio pemerintah, papan pengumuman kantor desa, pengeras suara masjid, atau dibawa langsung oleh aparat yang berkeliling memberikan sosialisasi. Aparat desa dan kecamatan menjadi penghubung utama antara negara dan masyarakat, sebab akses masyarakat terhadap dokumen resmi atau pemberitaan masih sangat terbatas.

Program pembangunan seperti perbaikan irigasi, bantuan pupuk, transmigrasi, perbaikan sekolah, hingga pemberdayaan masyarakat seringkali berjalan tanpa sorotan publik. Tidak ada foto kegiatan yang beredar luas, tidak ada komentar netizen, dan tidak ada laporan cepat seperti era media daring saat ini. Publik menerima informasi secara satu arah, sehingga ruang kritik dan pengawasan masyarakat sangat minim.

Namun, kondisi tempo dulu juga memiliki sisi positif. Semangat gotong royong masih menjadi pilar utama. Banyak program pemerintah justru terlaksana dengan kuat karena keterlibatan masyarakat dalam kerja bakti, musyawarah desa, hingga swadaya pembangunan. Hubungan antara pemerintah dan warga berlangsung secara langsung tanpa perantara teknologi.

Perubahan mulai terasa ketika media cetak berkembang pesat, disusul era televisi, lalu internet. Ketika media online hadir, wajah pemerintahan berubah total. Program pemerintah kini dapat dipantau dari mana saja, setiap kegiatan terdokumentasi, dan setiap keputusan bisa dikritisi oleh publik secara terbuka. Transparansi menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Mengungkap kembali bagaimana program pemerintah tempo dulu dijalankan memberi gambaran betapa besar perubahan pola komunikasi pemerintahan. Dulu informasi terbatas. Kini masyarakat justru kebanjiran informasi. Dulu pengawasan minim. Kini setiap kebijakan bisa diperiksa publik dalam hitungan menit.

Perjalanan perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan media bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana negara dan rakyat saling terhubung, saling mengawasi, dan membangun transparansi bersama.


Pada masa tersebut, hampir semua program strategis seperti pembangunan infrastruktur desa, bantuan pertanian, pembangunan sekolah, hingga proyek kesehatan berjalan tanpa dokumentasi publik yang memadai. Informasi yang beredar sering kali hanya bersumber dari aparat pemerintah, sementara masyarakat tidak memiliki saluran untuk melakukan verifikasi independen.

Karena tidak ada media digital yang memantau, proyek-proyek tertentu bisa berjalan tanpa sorotan, bahkan tanpa catatan yang mudah diakses saat ini. Publik hanya mengetahui apa yang disampaikan pemerintah melalui radio lokal, papan pengumuman kantor desa, atau rapat musyawarah desa yang sifatnya sangat terbatas.

Situasi ini menyebabkan ruang kritik hampir tidak ada. Kesalahan teknis, kekurangan anggaran, atau pelaksanaan program yang tidak tepat sasaran seringkali tidak diketahui masyarakat luas. Dalam beberapa kasus, laporan keberhasilan program lebih dominan daripada laporan kendala atau penyimpangan, karena tidak ada media yang menginvestigasi di lapangan sebagaimana sekarang.

Namun di balik keterbatasan itu, ada sisi lain yang justru menguat: peran masyarakat dalam kerja bakti dan gotong royong. Banyak program pemerintah tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran negara, tetapi juga didorong oleh partisipasi warga yang menyumbang tenaga, bahan bangunan, bahkan sebagian biaya swadaya. Interaksi langsung antara aparat dan masyarakat menjadi fondasi utama terselenggaranya banyak kegiatan.

Kehadiran media online kemudian mengubah semua pola tersebut. Kini setiap program pemerintah—sekecil apapun—bisa dipantau publik, diberitakan, dikomentari, bahkan diinvestigasi oleh jurnalis dan warganet. Dokumentasi kegiatan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Pemerintah dituntut transparan karena apa pun dapat menjadi sorotan publik dalam hitungan menit.

Perbandingan antara masa lalu dan masa kini menunjukkan satu hal:


dulu transparansi bergantung pada pejabat; sekarang transparansi bergantung pada publik.

Mengungkap program pemerintah tempo dulu bukan hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga membuka ruang refleksi bagaimana teknologi mengubah kontrol sosial. Apa yang dulu tidak terekam, kini menjadi pelajaran penting bagi generasi saat ini untuk terus menjaga akuntabilitas, membuka akses informasi, dan memastikan bahwa setiap program pemerintah berjalan untuk kepentingan masyarakat secara nyata



8 Nov 2025

"Membangun Negeri Tanpa Melupakan Rakyat Kecil”


ZONA BUSER ,  Di tengah kemajuan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional, masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dalam kesulitan. Di pelosok desa, di sudut kota, hingga di antara hiruk-pikuk pusat industri, mereka tetap berjuang demi memenuhi kebutuhan dasar — pangan, pendidikan, dan tempat tinggal yang layak.

Rakyat menaruh harapan besar kepada pemerintah agar tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur dan investasi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial. Kehidupan yang layak bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap warga negara sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

Sudah saatnya pemerintah melihat dan mendengar jeritan rakyat kecil, mereka yang bekerja keras setiap hari demi sekadar bertahan hidup. Kepedulian dan langkah nyata dari pemangku kebijakan menjadi kunci agar cita-cita keadilan sosial benar-benar terwujud di bumi Indonesia.


Rakyat bukan meminta belas kasihan, melainkan perhatian dan kebijakan yang berpihak. Mereka ingin merasakan hasil dari kemerdekaan yang sejatinya untuk seluruh anak bangsa, bukan hanya segelintir orang yang hidup di lingkar kekuasaan dan kemapanan.

Ketimpangan sosial yang masih terasa di berbagai daerah menjadi cermin bahwa pembangunan belum sepenuhnya merata. Di satu sisi, ada masyarakat yang menikmati kemudahan teknologi dan akses ekonomi; di sisi lain, masih ada warga yang harus berjuang mencari air bersih, pendidikan layak, dan pelayanan kesehatan yang memadai.

Pemerintah diharapkan turun langsung melihat kondisi masyarakat di lapangan — bukan hanya melalui laporan dan data, tetapi dengan mata dan hati. Karena dari sana akan lahir empati, dan dari empati akan lahir kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Rakyat Indonesia percaya bahwa negeri ini bisa menjadi tempat yang adil, sejahtera, dan manusiawi bagi semua. Namun untuk mewujudkannya, dibutuhkan keberpihakan nyata, bukan sekadar janji dalam pidato atau rencana di atas kertas.**)


7 Nov 2025

Imam Ideal, Tak Hanya Fasih tapi Juga Peduli Kondisi Makmum


ZONA BUSER , Soppeng Umat Islam diimbau agar para imam masjid memperhatikan kondisi jamaah ketika memimpin shalat berjamaah. Hal ini terutama penting bila di antara makmum terdapat orang tua, anak kecil, atau jamaah yang memiliki keterbatasan fisik.

Imbauan tersebut merujuk pada tuntunan Rasulullah ﷺ yang bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menjadi imam, maka hendaklah ia memperingan shalat, karena di antara mereka ada orang tua, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Prinsip tersebut menekankan bahwa seorang imam hendaknya tidak memperpanjang bacaan Al-Qur’an dalam shalat berjamaah, agar semua jamaah dapat mengikuti dengan khusyuk dan tanpa kesulitan.

“Imam yang baik bukan hanya yang fasih membaca Al-Qur’an, tapi juga yang peka terhadap kondisi makmumnya,” ujar salah satu tokoh agama setempat.

Dengan demikian, keseimbangan antara kekhusyukan dan kepedulian sosial dalam beribadah dapat terjaga, mencerminkan nilai rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan beragama.


Negara Tanpa Jurnalis, Negara Tanpa Cahaya


Dalam kehidupan berbangsa, jurnalis memegang peran yang tak tergantikan. Mereka bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi penjaga akal sehat publik dan pengawas jalannya kekuasaan. Maka, bayangkan jika suatu negara tidak memiliki jurnalis — yang tersisa hanyalah kegelapan informasi dan kekuasaan tanpa kendali.

Tanpa jurnalis, masyarakat kehilangan sumber informasi yang kredibel. Kebenaran akan digantikan oleh rumor, fitnah, dan propaganda dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Tidak ada lagi penyeimbang yang mampu memeriksa kebenaran klaim pemerintah atau pelaku bisnis besar. Akibatnya, warga sulit membedakan mana fakta, mana manipulasi.

Lebih jauh lagi, hilangnya jurnalis berarti hilangnya fungsi pengawasan terhadap kekuasaan. Selama ini, jurnalis adalah “anjing penjaga” demokrasi yang memastikan pejabat, aparat, dan lembaga publik menjalankan tugasnya dengan benar. Tanpa peran itu, korupsi, pelanggaran hukum, dan penyalahgunaan wewenang akan tumbuh subur tanpa kontrol publik.

Jurnalis juga menjadi penyambung suara rakyat. Mereka menghadirkan cerita dari pelosok negeri, dari orang-orang kecil yang sering diabaikan dalam kebijakan. Tanpa mereka, suara rakyat bisa tenggelam dalam hiruk pikuk kepentingan elite. Padahal, keadilan sosial hanya bisa tumbuh ketika setiap warga memiliki ruang untuk didengar.

Lebih dari itu, jurnalis adalah penjaga memori bangsa. Berita-berita yang mereka tulis menjadi catatan perjalanan sejarah — tentang perjuangan, keberhasilan, dan kegagalan bangsa. Jika peran itu hilang, masa depan akan kehilangan pelajaran berharga dari masa lalu.

Karena itu, negara tanpa jurnalis sejatinya adalah negara tanpa cahaya. Pemerintah berjalan tanpa pengawasan, rakyat hidup tanpa informasi, dan demokrasi hanya tinggal nama. Menjaga kebebasan pers berarti menjaga nyala terang bagi masa depan bangsa.




🕯️ 1. Hilangnya sumber informasi yang kredibel

Tanpa jurnalis, masyarakat tidak punya sumber informasi yang bisa dipercaya.
Informasi publik akan dikuasai oleh rumor, propaganda, atau pihak-pihak yang punya kepentingan politik dan ekonomi.
➡️ Akibatnya, warga sulit membedakan mana fakta, mana manipulasi.


⚖️ 2. Tidak ada pengawasan terhadap kekuasaan

Jurnalis adalah “anjing penjaga” (watchdog) negara.
Mereka memeriksa apakah pejabat, aparat, dan lembaga publik menjalankan tugasnya dengan benar.
➡️ Tanpa jurnalis, korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan pelanggaran HAM akan meningkat karena tidak ada yang mengawasi.


🗣️ 3. Suara rakyat akan hilang

Jurnalis memberi ruang bagi masyarakat kecil, kelompok rentan, dan warga biasa untuk didengar.
Tanpa mereka, isu rakyat kecil bisa tenggelam di tengah hiruk-pikuk kepentingan elite.


📚 4. Hilangnya rekam jejak sejarah dan kebijakan

Berita adalah catatan perjalanan bangsa.
Jika tidak ada jurnalis yang meliput, menulis, dan mendokumentasikan peristiwa, maka masa depan kehilangan arsip dan pelajaran dari masa lalu.


💔 5. Demokrasi lumpuh, otoritarianisme tumbuh

Tanpa media yang bebas dan jurnalis yang kritis, pemerintah bisa mengontrol seluruh informasi.
➡️ Itulah ciri negara otoriter: hanya ada satu versi kebenaran — versi penguasa.


Kesimpulan

Negara tanpa jurnalis adalah negara tanpa cahaya.
Pemerintah berjalan tanpa pengawasan, rakyat hidup tanpa informasi, dan demokrasi hanya tinggal nama.



4 Nov 2025

Kopi Jadi Teman Saat Stres, Ini Alasannya!


Bagi banyak orang, secangkir kopi bukan sekadar minuman, tapi juga teman di kala stres. Aroma khas dan rasa pahitnya sering dianggap mampu menenangkan pikiran yang penat.

Peneliti menyebutkan bahwa kafein dalam kopi dapat merangsang produksi hormon dopamin dan serotonin, yang berperan dalam meningkatkan suasana hati. Tak heran, setelah menyeruput kopi, seseorang sering merasa lebih segar dan bersemangat.

Namun, ahli kesehatan mengingatkan agar konsumsi kopi tetap dalam batas aman. “Dua cangkir per hari sudah cukup untuk mendapatkan efek positifnya. Terlalu banyak justru bisa memicu cemas dan gangguan tidur,” ujar dr. Rina Astuti, pakar kesehatan dari Universitas Indonesia.

Selain efek kafein, momen menikmati kopi juga berperan besar. Duduk santai di warung kopi atau kafe sambil berbincang ringan dapat membantu tubuh lebih rileks dan menurunkan ketegangan pikiran.

Jadi, tak salah jika banyak yang menjadikan kopi sebagai teman setia di kala stres. Asalkan tidak berlebihan, secangkir kopi bisa jadi cara sederhana untuk menenangkan diri dan menjaga semangat tetap menyala.

3 Nov 2025

Beranda Facebook Makin Panas? Warganet Gerah Lihat Konten Tak Pantas!




Belakangan ini, sejumlah pengguna Facebook mengeluhkan semakin banyaknya foto dan konten yang mengandung unsur senonoh atau tidak pantas beredar di linimasa mereka. 

Konten semacam itu sering muncul dalam bentuk unggahan pribadi, tautan video, maupun grup-grup yang menyebarkan gambar vulgar.


Banyak warganet menyayangkan lemahnya pengawasan terhadap unggahan tersebut. Beberapa di antaranya bahkan muncul di kolom rekomendasi atau iklan, sehingga dapat dengan mudah diakses oleh anak-anak dan remaja.


“Saya buka Facebook cuma buat lihat kabar teman, tapi sekarang banyak banget foto-foto tidak senonoh lewat di beranda,” ujar salah satu pengguna.// Senin 3/11/2025

Rokok Ilegal Masih Marak, Mengapa Sulit Diberantas?


        Foto Ilustrasi

Peredaran rokok ilegal di Indonesia masih menjadi persoalan serius bagi pemerintah. Meski berbagai upaya penindakan telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), jumlah rokok tanpa pita cukai atau berpita cukai palsu terus bermunculan di pasaran.

Menurut komentar para perokok menyampaikan :

,"Faktor ekonomi juga menjadi penyebab utama sulitnya memberantas rokok ilegal. Harga rokok legal terus naik akibat tarif cukai yang meningkat setiap tahun, sementara rokok ilegal dijual jauh lebih murah dan mudah ditemukan di pasaran. Hal ini membuat sebagian masyarakat berpenghasilan rendah beralih ke produk ilegal.



Selain itu, penegakan hukum yang belum konsisten serta rendahnya kesadaran masyarakat turut memperparah situasi. Banyak konsumen yang belum memahami bahwa membeli rokok tanpa cukai berarti merugikan negara karena mengurangi penerimaan dari sektor pajak.


Dan kita tunggu tindak lanjut pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana memperkuat kerja sama dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk menekan peredaran rokok ilegal. Edukasi publik juga digencarkan agar masyarakat tidak membeli produk tanpa pita cukai.


Meski begitu, para ahli menilai, pemberantasan rokok ilegal tidak cukup hanya dengan penindakan. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup pembinaan terhadap pelaku usaha kecil, penyediaan alternatif mata pencaharian, serta kebijakan harga yang lebih berimbang.


“Selama masih ada kesenjangan harga yang lebar antara rokok legal dan ilegal, pasar rokok ilegal akan terus hidup,” pungkasnya.**/ Senin (3/11/2025)


1 Nov 2025

Kami Jurnalisme Memerangi Kejahatan dan Menegakkan Kebenaran bukan Lawan atau Dimusuhi



     Foto Ilustrasi 

Di tengah arus informasi yang semakin deras, peran jurnalis menjadi semakin vital. Banyak pihak masih memandang jurnalis dengan skeptisisme, bahkan beberapa menganggap mereka sebagai “musuh” karena berani mengungkap fakta yang tidak nyaman. Padahal, tugas utama jurnalis bukanlah menyerang atau memihak, melainkan menyampaikan kebenaran kepada publik.

Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Arif Nugroho, “Jurnalis bukan musuh pemerintah atau masyarakat. Tugas kami adalah menyoroti fakta, mengungkap kejahatan, dan memastikan informasi sampai kepada publik secara akurat dan adil.”

Peran jurnalis tidak hanya penting untuk demokrasi, tetapi juga menjadi pengingat bagi institusi dan individu agar bertindak transparan dan bertanggung jawab. 

Dengan demikian, masyarakat dapat membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang benar, bukan rumor atau berita palsu.


Kritik dan investigasi yang dilakukan jurnalis seringkali dianggap mengganggu kenyamanan, tetapi sebenarnya hal itu merupakan bagian dari upaya menjaga integritas dan keadilan. Seperti yang diungkapkan Arif Nugroho, “Tanpa jurnalis, banyak kejahatan dan ketidakadilan akan tersembunyi dari mata publik.”

Jurnalis, pada intinya, adalah penjaga kebenaran. Mereka tidak mencari sensasi, tetapi memastikan bahwa setiap tindakan yang merugikan masyarakat mendapat sorotan. Masyarakat pun diimbau untuk mendukung kerja jurnalis, bukan memusuhi mereka, demi terciptanya lingkungan informasi yang sehat dan transparan.**)

Kisah Nyata: Kehidupan Jurnalis di Balik Layar Berita

           foto ilustrasi 

Di balik berita yang setiap hari kita baca, ada sosok jurnalis yang bekerja tanpa kenal waktu. Mereka berlari mengejar narasumber, menulis di tengah malam, dan terkadang menghadapi bahaya di lapangan. Namun, di balik dedikasi itu, mereka juga manusia biasa—punya keluarga untuk di nafkahi

“Banyak orang pikir jurnalis itu hidupnya enak, bisa ketemu tokoh penting dan jalan-jalan. Padahal, kami sering pulang larut malam, bahkan tak jarang tanpa uang transport,” ungkap Lina Wulandari, jurnalis media lokal di Semarang. Ia mengaku, penghasilan dari pekerjaannya belum selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Fenomena ini bukan hal baru di dunia jurnalisme Indonesia.

 Di sejumlah daerah, jurnalis masih bekerja dengan honor rendah dan tanpa jaminan sosial. Kondisi itu membuat sebagian di antara mereka harus mencari pekerjaan tambahan demi menopang kehidupan keluarga. Meski begitu, semangat untuk menyajikan berita berkualitas tak pernah padam.


Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI), kesejahteraan jurnalis merupakan hal yang harus menjadi perhatian serius. “Kebebasan pers tidak akan berarti tanpa kesejahteraan pekerjanya,” ujar seorang perwakilan AJI. Mereka menekankan pentingnya standar gaji minimum dan perlindungan kerja bagi jurnalis di seluruh Indonesia.


Meski menghadapi banyak tantangan, para jurnalis tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka menulis bukan hanya karena profesi, tetapi juga karena panggilan hati—menyampaikan kebenaran kepada publik. Dan di antara semua itu, mereka tetap memikirkan keluarga di rumah, yang menunggu dengan harap dan doa.



“Berita yang kami tulis mungkin hanya dibaca beberapa menit oleh publik. Tapi di baliknya, ada pengorbanan waktu, tenaga, dan cinta,” kata Lina menutup perbincangan dengan senyum.

 1 November 2025**)
© Copyright 2018 ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI | All Right Reserved