— Upaya pencegahan korupsi terus dilakukan oleh instansi pemerintah, mulai dari sosialisasi, pertemuan rutin, hingga pemasangan baliho kecil bertuliskan imbauan
di berbagai kantor pelayanan publik. Namun, faktanya praktik korupsi masih saja muncul dan menjadi persoalan serius yang sulit diberantas. Kamis 4 November 2025
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa berbagai upaya kampanye hanya menyentuh permukaan, sementara akar persoalan korupsi jauh lebih kompleks. “Sosialisasi itu penting, tetapi tidak cukup. Selama sistem masih memberi celah, korupsi tetap punya ruang untuk tumbuh,” ujarnya.
Budaya Permisif dan Celah Sistem yang Belum Tertutup
Di lapangan, masih ditemukan anggapan bahwa beberapa bentuk penyimpangan adalah hal biasa, seperti praktik gratifikasi, uang terima kasih, atau mengurus sesuatu melalui jalur cepat. Budaya ini lama-lama dianggap normal sehingga upaya pencegahan menjadi kurang efektif.
Selain itu, proses birokrasi yang belum sepenuhnya transparan turut menjadi penyebab. Alur yang panjang, manual, dan minim pengawasan memberikan peluang untuk negosiasi di bawah meja.
Godaan Manfaat Besar dan Penegakan Hukum yang Tak Konsisten
Meski berbagai kampanye anti-korupsi terus digaungkan, sejumlah pihak menilai bahwa selama korupsi memberikan manfaat besar dan risiko hukum dianggap kecil, maka perilaku tersebut tetap sulit diberantas. “Korupsi bisa menghadirkan keuntungan instan. Jika aparat penegak hukum tidak tegas dan konsisten, pelaku akan merasa aman,” jelas seorang pemerhati hukum di Soppeng.
Kasus-kasus korupsi yang muncul dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pelaku mulai dari tingkat bawah hingga pejabat tinggi dapat terlibat. Namun tidak semua berakhir dengan hukuman yang setimpal, sehingga memunculkan persepsi bahwa hukum bisa dibeli.
Kesejahteraan dan Tekanan Jabatan Ikut Berpengaruh
Selain sistem dan budaya, faktor kesejahteraan juga menjadi perhatian. Di beberapa daerah, pegawai dihadapkan pada kebutuhan hidup yang meningkat, sementara pendapatan dinilai belum memadai. Dalam kondisi tertentu, situasi ini membuat mereka rentan terhadap praktik korupsi.
Tak sedikit pula pegawai yang terjebak dalam tekanan struktural. Ada yang mengikuti praktik “warisan” pimpinan sebelumnya, ada pula yang terpaksa menurut perintah demi menjaga jabatan.
Perlu Reformasi Sistemik, Bukan Sekadar Slogan
Berbagai kalangan menilai bahwa pemasangan baliho dan sosialisasi tetap penting sebagai pengingat moral. Namun untuk benar-benar memberantas korupsi, diperlukan langkah yang lebih tegas, transparan, dan menyeluruh, mulai dari digitalisasi layanan publik, pengawasan berlapis, hingga penegakan hukum tanpa pandang bulu.
Sejumlah pihak berharap ke depan pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum dapat memperkuat kerja sama dalam menghilangkan setiap celah korupsi, sehingga kampanye anti-korupsi tidak berhenti sebagai slogan semata, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi pelayanan publik.
Berikut komentar tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat Soppeng menilai bahwa kampanye anti-korupsi tidak akan efektif selama penegakan hukum belum berjalan konsisten.
“Baliho dan sosialisasi itu bagus, tapi tidak akan berarti apa-apa kalau sistemnya masih memberi celah dan penindakan tidak tegas. Masyarakat ingin melihat tindakan nyata, bukan hanya slogan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa budaya permisif terhadap praktik-praktik kecil juga harus diubah.
“Kadang kita sendiri membiarkan hal-hal kecil yang sebenarnya masuk kategori penyimpangan. Dari yang kecil itulah korupsi besar bisa tumbuh. Jadi perubahan harus dimulai dari lingkungan terkecil,” tegasnya.
Menurutnya, korupsi tidak akan hilang hanya dengan himbauan, tetapi melalui pembenahan menyeluruh.
“Kalau semua pihak berani transparan dan siap diawasi, insyaallah korupsi bisa ditekan. Tapi kalau masih ada yang merasa kebal hukum, sampai kapan pun korupsi sulit hilang,” sambungnya.
Tokoh masyrakat lainnya berharap agar institusi pemerintah tidak berhenti pada kampanye, tetapi juga melakukan langkah konkret.
“Kami masyarakat ingin keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu. Itu baru namanya pencegahan korupsi yang sesungguhnya,” tutupnya.
FOLLOW THE ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow ZONABUSER.ID | BERITA TERKINI HARI INI on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram