Di Balik Wisuda Mardiana Umar, Ada Air Mata dan Perjuangan Seorang Ibu yang Tak Kenal Lelah
SOPPENG — Perjalanan panjang Mardiana Umar, S.Pd., hingga meraih gelar sarjana dengan predikat Cumlaude menyimpan kisah haru. Di balik toga yang dikenakannya pada prosesi Wisuda Sarjana ke-28 STAI Al-Gazali Soppeng, Minggu (27/9/2026), terdapat perjuangan seorang ibu yang tak pernah mengenal lelah.
Mardiana Umar lahir pada 19 Juni 2003 dari pasangan almarhum Umar Husaen, mantan Kepala Sekolah SDN 136 Labessi, dan St. Nurjannah.
Sang ayah meninggal dunia ketika Mardiana masih berada dalam kandungan. Kondisi tersebut membuat Mardiana tumbuh tanpa pernah merasakan kasih sayang dan pendampingan langsung dari ayah kandungnya.
Dalam perjalanan hidupnya, sang ibu, St. Nurjannah, menjadi sosok penting yang terus memberikan dukungan dan kekuatan bagi Mardiana dalam menjalani pendidikan.
Perjalanan pendidikan Mardiana dimulai sejak TK, kemudian melanjutkan pendidikan di Mangkoso hingga akhirnya menempuh pendidikan tinggi di STAI Al-Gazali Soppeng.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dilewati keluarga. Namun, St. Nurjannah tetap berusaha mendampingi dan memberikan dukungan agar pendidikan anaknya dapat terus berlanjut.
Dalam perjalanan pendidikan Mardiana, sosok ayah tiri, Akhmad Mario, juga turut mendampingi. Mengantar dan menjemput, memberikan semangat, serta berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan Mardiana menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Kini, perjuangan panjang itu berbuah haru.
Mardiana berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dengan IPK 3,8 dan predikat Cumlaude.
Bagi keluarga, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi menjadi buah dari perjalanan panjang yang dilalui bersama.
Seorang anak yang sejak dalam kandungan telah kehilangan ayah kandungnya, kini mampu menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Bagi St. Nurjannah, keberhasilan Mardiana menjadi kebahagiaan tersendiri setelah melewati perjalanan panjang dalam mendampingi pendidikan putrinya.
“Terima kasih, Ya Allah. Perjuangan panjang ini akhirnya sampai pada hari yang penuh haru,” menjadi ungkapan syukur atas pencapaian Mardiana.
Wisuda tersebut bukan menjadi akhir dari perjuangan, melainkan awal bagi Mardiana untuk melangkah ke kehidupan berikutnya dengan bekal ilmu yang telah diperolehnya.
Selamat wisuda, Mardiana Umar, S.Pd. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi bekal untuk mengabdi, membahagiakan keluarga, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
