Gagasan Andi Akbar Terwujud, Baju Bodo Bugis Soppeng Kini di Tangan Sherly Tjoanda
SOPPENG – Gagasan untuk memperkenalkan identitas budaya Bugis Soppeng melalui busana tradisional kini berlanjut ke Maluku Utara. Baju Bodo Ala Bugis Soppeng yang digagas Andi Akbar, S.Pd., telah sampai di tangan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.
Momen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kepada masyarakat yang lebih luas melalui kolaborasi dan kreativitas di bidang busana tradisional.
Dalam foto yang beredar, Sherly Tjoanda terlihat memegang kemasan Baju Bodo Ala Bugis Soppeng bersama Chelsea, yang disebut sebagai salah satu staf khusus Gubernur Maluku Utara dan alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
Di balik gagasan tersebut, Andi Akbar, S.Pd., berperan sebagai penggagas sekaligus fasilitator yang mempertemukan ide pelestarian budaya dengan kreativitas desain busana. Ia dikenal sebagai penggiat sosial, ekonomi, dan kebudayaan asal Soppeng serta alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Dalam proses kreatifnya, Andi Akbar menggandeng Cantika Sabbena, yang disebut merupakan milik Hj. Nurlaela Buhari, untuk menerjemahkan gagasan budaya tersebut ke dalam karya busana. H. Munadir Nurdin, birokrat senior Pemerintah Kabupaten Soppeng, juga disebut turut terlibat dalam penguatan gagasan dan identitas budaya yang diusung.
Baju Bodo Sutra Hijau dengan Sarung Tenun Motif Kalong
Busana yang dipersiapkan untuk Sherly Tjoanda mengusung warna hijau dengan bahan serat sutra, dilengkapi hiasan payet dan dipadukan dengan sarung tenun Walida bermotif Kalong yang disebut sebagai salah satu motif khas Soppeng.
Perpaduan tersebut menghadirkan busana yang tidak hanya mengedepankan nilai estetika, tetapi juga membawa pesan tentang identitas dan kekayaan budaya masyarakat Bugis Soppeng.
Dalam tradisi busana Bugis, warna dan motif dapat memiliki makna sosial serta budaya tertentu. Sementara itu, penggunaan sarung tenun Walida bermotif Kalong menjadi bagian dari upaya menampilkan karakter lokal dalam karya tersebut.
Bagi Andi Akbar, gagasan ini tidak semata-mata berkaitan dengan pakaian tradisional. Lebih dari itu, Baju Bodo diharapkan menjadi salah satu sarana memperkenalkan budaya Soppeng dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan pariwisata.
Berawal dari Undangan Gau Maraja Bone 2026
Sebelumnya, Sherly Tjoanda disebut mendapat undangan untuk menghadiri penutupan Festival Budaya Gau Maraja Bone 2026. Namun, ia menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat hadir lantaran masih berada di Jakarta dan memiliki agenda pertemuan dengan sejumlah pejabat negara.
Dalam komunikasi melalui telepon dengan Andi Akbar, Sherly menyampaikan apresiasi atas perhatian dan persembahan budaya tersebut. Ia juga meminta agar Baju Bodo Ala Bugis Soppeng dikirimkan untuk dikenakan dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan pariwisata.
Kini, busana tersebut telah sampai kepada penerimanya di Maluku Utara. Peristiwa ini menjadi kelanjutan komunikasi yang dibangun untuk memperkenalkan identitas budaya Soppeng melalui hubungan antardaerah.
Dari Soppeng untuk Panggung Kebudayaan yang Lebih Luas
Perjalanan Baju Bodo ini menggambarkan bagaimana gagasan pelestarian budaya dapat diwujudkan melalui komunikasi, kolaborasi, dan kerja kreatif.
Andi Akbar menginisiasi gagasan serta memfasilitasi komunikasi budaya. Cantika Sabbena berperan dalam menerjemahkan konsep menjadi karya busana, sementara Hj. Nurlaela Buhari dan H. Munadir Nurdin disebut turut mengambil bagian dalam proses tersebut.
Dari Soppeng, gagasan itu menjangkau Maluku Utara. Dua daerah yang berjauhan secara geografis dipertemukan melalui karya yang membawa identitas budaya Bugis.
Baju Bodo tersebut bukan sekadar busana tradisional, melainkan juga sarana untuk menyampaikan cerita tentang identitas, kolaborasi, dan upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Dari sebuah gagasan, lahir sebuah karya. Dari sebuah karya, terbuka peluang untuk membawa identitas budaya Soppeng ke panggung kebudayaan yang lebih luas.
Penulis: A. Akbar, S.Pd.
Alumni HMI | Penggiat Sosial, Ekonomi, dan Kebudayaan
