Rp276 Miliar Dipertaruhkan, Bupati Soppeng Temukan Sejumlah Pekerjaan SRT Belum Rampung
![]() |
| Foto // Bupati Soppeng di Lokasi SRT |
SOPPENG — Proyek Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 46 Kabupaten Soppeng dengan nilai sekitar Rp276 miliar belum sepenuhnya rampung hingga batas akhir kontrak, Senin (31/8/2026).
Kondisi tersebut membuat Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng geram saat melakukan peninjauan langsung pada Senin sore.
Suwardi bahkan berjalan kaki menyusuri kawasan SRT untuk memeriksa satu per satu bangunan dan fasilitas yang dikerjakan.
Namun, alih-alih mendapati kawasan yang benar-benar siap digunakan, Bupati masih menemukan sejumlah pekerjaan yang menurutnya harus segera dibenahi.
Mulai dari taman, taman bermain, ketersediaan air, drainase, sanitasi hingga kualitas pengerjaan bangunan menjadi perhatian.
Kontrak Berakhir, Pekerjaan Masih Berjalan
Salah satu persoalan yang dipertanyakan Suwardi adalah masih adanya aktivitas pekerjaan ketika masa kontrak berakhir pada 31 Agustus 2026.
Bagi Suwardi, pekerjaan yang dinyatakan selesai seharusnya tidak lagi menyisakan kegiatan konstruksi.
“Kalau pekerjaan sudah selesai berarti tidak ada lagi kegiatan,” tegas Suwardi.
Sebelumnya, proyek tersebut ditargetkan rampung pada Juli 2026. Namun hingga memasuki batas akhir kontrak, sejumlah bagian masih membutuhkan penyelesaian dan perbaikan.
Loster dan Tangga Disorot
Kualitas pengerjaan menjadi salah satu sorotan paling keras Bupati.
Saat memeriksa pemasangan loster dan pengerjaan tangga, Suwardi menilai hasil pekerjaan tersebut tidak rapi.
Ia bahkan melontarkan kritik tajam terhadap kualitas tenaga yang mengerjakan bagian tersebut.
“Kalau tukang, ya tukang kelas tiga,” ujar Suwardi.
Menurutnya, proyek dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah tidak seharusnya menghasilkan pekerjaan yang kualitasnya mengecewakan.
“Kualitas harus diperhatikan,” tekan Bupati.
Taman dan Fasilitas Dasar Belum Siap
Suwardi juga mempertanyakan kondisi taman di kawasan SRT.
Menurutnya, taman semestinya sudah ditanami dan mulai tumbuh, sementara fasilitas taman bermain juga harus tersedia sebelum siswa menempati kawasan tersebut.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah ketersediaan air.
Suwardi menegaskan siswa tidak boleh masuk ke asrama apabila kebutuhan dasar belum benar-benar tersedia.
Untuk asrama, bagian siswa SD disebut sebagian telah selesai. Sementara fasilitas untuk siswa SMP dan SMA masih terlihat dalam proses pengerjaan.
Gedung SMA sendiri dinilai sudah cukup memungkinkan untuk difungsikan.
Keselamatan Siswa Jadi Perhatian
Selain kualitas bangunan, keselamatan siswa juga menjadi perhatian Bupati.
Suwardi menyoroti keberadaan mesin pemotong rumput dan sejumlah peralatan pemotong lainnya yang berpotensi membahayakan siswa apabila tidak ditempatkan secara aman.
Ia meminta seluruh kawasan dipastikan aman sebelum digunakan.
Jangan sampai fasilitas pendidikan yang dibangun dengan anggaran besar justru menyisakan potensi kecelakaan bagi para siswa.
Drainase dan Sanitasi Ikut Diperiksa
Sistem drainase juga tidak luput dari pemeriksaan.
Suwardi meminta drainase dikerjakan dengan baik, terutama sebagai antisipasi menghadapi musim hujan.
Menurutnya, kualitas proyek tidak hanya diukur dari bangunan yang terlihat secara kasatmata, tetapi juga dari sistem pendukung yang memastikan kawasan tersebut dapat berfungsi dengan baik.
Pada bagian sanitasi, Suwardi turut menyoroti penggunaan kloset duduk merek Toto yang disebut sebagai pilihan dengan harga paling murah.
“Jangan asal saja, laksanakan secepatnya,” tegasnya.
Siswa Belum Boleh Masuk Asrama
Berakhirnya kontrak pada 31 Agustus 2026 tidak serta-merta membuat siswa diperbolehkan menempati asrama.
Suwardi memberikan batasan yang tegas. Seluruh pekerjaan harus benar-benar diselesaikan terlebih dahulu.
“Dua hari setelah pekerjaan selesai, baru siswa-siswi bisa masuk asrama,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan agar keterlambatan tidak kembali terjadi.
“Molor lagi tidak bisa hanya sepuluh hari,” ujarnya.
Bupati memastikan dirinya akan kembali turun melakukan pengecekan untuk melihat sejauh mana pekerjaan perbaikan telah dilakukan.
Dari Kritik Proyek hingga Salat Bersama Siswa
Usai berkeliling memeriksa kawasan SRT, Suwardi melaksanakan salat Magrib berjamaah di Masjid Sekolah Rakyat.
Setelah salat, ia menyaksikan siswa-siswi makan malam bersama.
Suasana pun berubah hangat. Sejumlah siswa menghampiri Suwardi untuk bersalaman dan mencium tangannya.
Peninjauan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Sosial, pihak Waskita Purnawan, Staf Ahli Sainul, Kepala Sekolah SRT Arni, S.Pd., M.Pd., serta Ketua LSM SIDIK Mahmud.
Dengan nilai proyek sekitar Rp276 miliar, persoalan SRT Soppeng kini bukan semata-mata soal apakah proyek selesai sesuai batas waktu.
Yang menjadi perhatian adalah apakah proyek tersebut benar-benar siap digunakan, apakah kualitas pekerjaannya sesuai dengan nilai investasi yang dikeluarkan, serta apakah seluruh fasilitas dan lingkungan sekolah sudah aman bagi siswa.
Batas waktu kontrak boleh berakhir, tetapi standar kualitas dan keselamatan tidak boleh ikut berakhir. (Red)
